5 comments on “Mewaspadai Bahaya Laten Ilmu Sebuku

    • mohon maaf sebelumnya saya baru memahami maksud pertanyaan saudara, dan inipun juga berdasarkan pemahaman subjektif saya.Kalau yang dimaksud adalah hak cipta dalam dunia karya ilmiah, tulisan ringkas dan penuh kekurangan di atas memang asli tulisan saya, bukan pengambilalihan tulisan orang lain. Tetapi jika yang dimaksud adalah rujukan ilmiahnya, saya sengaja tidak cantumkan karena memang tidak saya maksudkan tulisan tersebut sebagai tulisan yang benar-benar ilmiah. Silahkan antara lain dirujuk ke Tafsir Ibn Katsir di bawah ayat 99 surah al-Hijr. Terima kasih responnya.

      Salam dari Tanah Banjar

  1. Asalamualaikum wr.wb maaf pak mau nanya skdar melagakan rasa pnsaran saya, apakah yg dmaksud ilmu sebuku itu yg merasa Aku nya msih ada jdi syariat dtinggalkan atau gmana?

    • Wa’alaikum Salam wr.wb.
      Sebetulnya ada beberapa versi pengertian ilmu sebuku, dan pengertian-pengertian itu tidak bisa dipaksakan untuk diseragamkan, karena memang ini adalah masalah budaya yang subjektif, tergantung penilaian dari masyarakat bersangkutan yang membentuk budaya itu. Di masyarakat Banjar, umumnya orang memahami ilmu sebuku sebagai ilmu akidah yang diselewengkan oleh seorang guru yang belum memiliki pemahaman utuh terhadap makna tauhid namun sudah berani mengajarkan pemahaman-pemahaman yang sepotong-sepotong, seperti keyakinan bahwa yang ada hanyalah Allah, sehingga dirinya juga dianggapnya tidak ada karena dia sendiri adalah Allah; akibatnya kalau diri ini adalah Allah maka kepada siapa dan untuk apa lagi menyembah? Ada pula yang dinamakan sebagai aliran ilmu sebuku adalah orang yang meletakkan sifat-sifat Allah ke dalam dirinya, sehingga dia dapat melihat dengan sifat Basharnya Allah, dapat bernafas dengan sifat Hayatnya Allah, dan seterusnya. Intinya, pemahaman kolektif masyarakat Banjar akan mengarah kepada makna bahwa orang yang termasuk ke dalam aliran ilmu sebuku akan meninggalkan syariat-syariat ubudiyyah seperti shalat dan puasa, sementara syariat alamiah seperti bernafas, makan, minum, bergaul suami-istri tetap mereka laksanakan. Di dalam masalah syariat ini pulalah satu letak kerancuan penganut ilmu sebuku. Demikian yang saya pahami, saudaraku.

      Wassalam’alaikum, wr.wb.

      Admin

  2. Saya org muallaf dari tunjung, org islam itu bnyak ilmunya. Keinginan mau membawa keluarga msuk islam,tapi pngetahuan kurang dan bukan guru.hanya ilmu jadi ja yg sring ditnjukan sbgai bkti Allah itu Maha Ilmunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s