12 comments on “Mewaspadai Bahaya Laten Ilmu Sebuku

    • mohon maaf sebelumnya saya baru memahami maksud pertanyaan saudara, dan inipun juga berdasarkan pemahaman subjektif saya.Kalau yang dimaksud adalah hak cipta dalam dunia karya ilmiah, tulisan ringkas dan penuh kekurangan di atas memang asli tulisan saya, bukan pengambilalihan tulisan orang lain. Tetapi jika yang dimaksud adalah rujukan ilmiahnya, saya sengaja tidak cantumkan karena memang tidak saya maksudkan tulisan tersebut sebagai tulisan yang benar-benar ilmiah. Silahkan antara lain dirujuk ke Tafsir Ibn Katsir di bawah ayat 99 surah al-Hijr. Terima kasih responnya.

      Salam dari Tanah Banjar

  1. Asalamualaikum wr.wb maaf pak mau nanya skdar melagakan rasa pnsaran saya, apakah yg dmaksud ilmu sebuku itu yg merasa Aku nya msih ada jdi syariat dtinggalkan atau gmana?

    • Wa’alaikum Salam wr.wb.
      Sebetulnya ada beberapa versi pengertian ilmu sebuku, dan pengertian-pengertian itu tidak bisa dipaksakan untuk diseragamkan, karena memang ini adalah masalah budaya yang subjektif, tergantung penilaian dari masyarakat bersangkutan yang membentuk budaya itu. Di masyarakat Banjar, umumnya orang memahami ilmu sebuku sebagai ilmu akidah yang diselewengkan oleh seorang guru yang belum memiliki pemahaman utuh terhadap makna tauhid namun sudah berani mengajarkan pemahaman-pemahaman yang sepotong-sepotong, seperti keyakinan bahwa yang ada hanyalah Allah, sehingga dirinya juga dianggapnya tidak ada karena dia sendiri adalah Allah; akibatnya kalau diri ini adalah Allah maka kepada siapa dan untuk apa lagi menyembah? Ada pula yang dinamakan sebagai aliran ilmu sebuku adalah orang yang meletakkan sifat-sifat Allah ke dalam dirinya, sehingga dia dapat melihat dengan sifat Basharnya Allah, dapat bernafas dengan sifat Hayatnya Allah, dan seterusnya. Intinya, pemahaman kolektif masyarakat Banjar akan mengarah kepada makna bahwa orang yang termasuk ke dalam aliran ilmu sebuku akan meninggalkan syariat-syariat ubudiyyah seperti shalat dan puasa, sementara syariat alamiah seperti bernafas, makan, minum, bergaul suami-istri tetap mereka laksanakan. Di dalam masalah syariat ini pulalah satu letak kerancuan penganut ilmu sebuku. Demikian yang saya pahami, saudaraku.

      Wassalam’alaikum, wr.wb.

      Admin

  2. Saya org muallaf dari tunjung, org islam itu bnyak ilmunya. Keinginan mau membawa keluarga msuk islam,tapi pngetahuan kurang dan bukan guru.hanya ilmu jadi ja yg sring ditnjukan sbgai bkti Allah itu Maha Ilmunya

  3. Maaf pak ini menurut saya orng awam y?
    Menurut saya kalau orang sampai pada tahapan makrifat berarti tidak mungkin dia melakukan kejahatan atau menzalimi hak orng lain.. Seperti tulisan bapak tadi orang yg berilmu msih melakukan kejahatan atau melanggar perintah berarti dia belum lah sampai pd tahap makrifat sebenar2 nya..

  4. Sebenarnya dalam mengenal ilmu sebuku bukan diselewengkan guru2 yang mengajarkan…tetapi ada berapa oknum murid yang kurang mengerti langsung menceritakan kepada orang lain.…dan juga jangan memvonis ajaran ilmu sebuku sesat…belajarlah dulu sampai keputing baru bisa memberikan pendapat sesat.…..jangan memberikan pendapat apalagi hanya subyektif…harap jangan lagi memberikan pendapat ajaran orang lain sesat bila kita belum mengerti apalagi tidak tahu

    • Setiap pendapat pasti subjektif. Mohon Anda pelajari lagi filsafat ilmu: apa itu subjektif dan apa itu objektif. Saya tidak ingin berdebat. Silahkan Anda tulis ketidaksependapatan Anda terhadap tulisan saya. Harap jaga aturan main. Saya menulis lewat blog saya, berarti saya berhak dan bertanggung jawab terhadap isinya. Ulama klasik sudah memberikan teladan: mengkritik tulisan lewat tulisan; mengkritik lisan lewat lisan. Imam al-Ghazali tidak sepakat dengan beberapa tulisan Ibn Sina, dan beliau sudah mengkritik lewat tulisan serupa. Kemudian, Ibnu Rusyd tidak sepakat dengan pendapat tertulisnya Imam al-Ghazali, dan beliau sudah mengkritik Imam al-Ghazali dengan cara menulis kitab serupa. Demikian saudaraku. terima kasih sudah berkunjung dan komen di blog ini.

  5. Ujar urang bahari….dilihat bagus kulitnya, harum baunya tapi. Bepira…sama kita jgn merasa baik tapi kada tahu isinya….

  6. Jangan memberikan asumsi bahwa mayoritas ilmu agama yang diajarkan di banjar sesat terutama mengenai ilmu sebuku…tolong diklarifikasi kembali pendapat anda.

    • Saya tidak berasumsi seperti yang Anda tulis, “bahwa mayoritas ilmu agama yang diajarkan di banjar sesat terutama mengenai ilmu sebuku”. demikian klarifikasi pendapat saya. terima kasih sudah berkunjung dan komen di blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s