Ruang Belajar Budaya

Mengapa harus Banjar Hulu? Itulah barangkali pertanyaan yang muncul ketika Anda membuka laman demi laman di blog ini. Apakah itu artinya ta’ashub? Tentunya tidak. Alasannya kiranya cukup pragmatis: kata itu belum ada yang menggunakannya baik sebagai akun maupun sebagai nama blog di wordpress..hehe..
Namun bukan berarti pilihan nama Banjar Hulu itu diambil sembarang. Tentu ada filosofinya. Di ruang inilah kita akan coba menggalinya. Insya Allah.

Asal-Usul Banjar Hulu
Hari Sabtu lepas Idul Adha 1431 Hijriyah saya berkesempatan untuk silaturrahmi kepada keluarga di Paringin Kabupaten Balangan. Ini memang merupakan momen yang kesekian kalinya bagi saya bertandang ke daerah yang semakin hulu dalam wilayah Tanah Banjar. Namun, baru kali ini saya betul-betul mencoba memperhatikan pelbagai bentuk dan arsitektur perumahan warga, khususnya yang saya lewati di sekitar kota Paringin.

Gajah_Manyusu_Pasayangan_Selatan_Martapura
Sumber Foto: http://3.bp.blogspot.com

Aneh. Demikian gelitik hati saya. Masalahnya dari buku-buku lama yang pernah saya pelajari tentang asal-usul urang Banjar justru berasal dari lembah sungai Balangan, yang tepatnya sekitar kota Paringin sekarang. Tetapi sekali lagi saya tidak menemukan arsitektur rumah Banjar lama sebagaimana yang masih banyak dijumpai di tepian sungai Martapura atau sungai-sungai lainnya di Tanah Banjar bagian Selatan. Rata-rata perumahan penduduk di Paringin sudah tidak merefleksikan adat Banjar lagi. Memang sekarang pertimbangan orang Banjar, dan termasuk saya sendiri, tentunya lebih praktis dan pragmatis. Artinya, tidak perlulah bermotif-motif yang sekiranya akan membuang-buang harta dan waktu saja.
Oo, ternyata dari pola pikir pragmatis semacam itu saya jumpai simpulan sementara bahwa adalah betul di hulu sungai Balangan merupakan asal-usul kebudayaan Banjar, namun karena sifatnya yang sudah sangat tua tadi maka warisan arsitekturnya sudah hampir tidak bisa diakses lagi. Tambahan lagi, hulu sungai Balangan merupakan asal-usul, yang berarti pula cikal-bakal, atau dalam bahasa ilmiahnya adalah proto Banjar, yaitu penduduk yang kelak melahirkan urang Banjar sekarang dan kebudayaannya. Makanya wajar apabila memang di sana belum terbentuk kebudayaan fisik sebagaimana yang sering dipahami sebagai budaya Banjar baik dari segi arsitektur maupun yang lainnya. Bukankah kebudayaan Banjar – dengan tiga fondasinya berupa kebudayaan sungai, bahasa Banjar, dan agama Islam – baru terbentuk secara kokoh beriringan dengan berdirinya Kesultanan Banjar di Kampung Kuin Banjarmasin sekitar tahun 1540 Masehi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s